
11.4K
SATahukah Anda bahwa setiap 1 Triliun Rupiah investasi baru di industri film bisa membuka sekitar 4.000 lapangan kerja berkualitas ?. Faktanya, pemulihan industri film kita pasca-pandemi adalah yang tercepat di kawasan, melampaui Korea Selatan dan Thailand. Namun, rasio layar kita masih sangat rendah (hanya 7,7 layar per satu juta penduduk).
Dalam rapat kerja hari ini bersama Badan Perfilman Indonesia, Asosiasi Perfilman Indonesia, Asosiasi Produser Film Indonesia, Asosiasi Video Streaming Indonesia, Pengkaji Film Indonesia, Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia, BUMN Produksi Film Negara, dan mitra strategis Komisi VII ~ Kementerian Ekonomi Kreatif RI. Kami membedah fakta menarik: penonton film lokal diprediksi tembus 100 juta dalam 5 tahun ke depan. Ini menunjukkan bahwa industri kita tidak lagi sekadar "bertahan", tapi sedang menuju Regional Powerhouse.
Bayangkan, di tahun 2024 saja, film lokal menguasai 65% pasar bioskop kita dengan total penonton menembus 82 juta. Kontribusi sektor layar ke PDB pun telah mencapai USD 5,1 miliar. Minat penonton tinggi, tapi infrastruktur dan talenta harus mengejar ketertinggalan.
Inilah mengapa kolaborasi lintas sektor—pemerintah, asosiasi, dan swasta—menjadi kunci. Kami sepakat: Industri film Indonesia sedang dalam fase "rebound" yang lebih kuat dari negara tetangga. Namun, kita menghadapi bottleneck: kekurangan layar dan kebutuhan regulasi yang lebih modern.
Keterlibatan Saya sebagai salah satu penyelenggara Lawang Sewu Short Film Festival yang diinisiasi Pemkot Semarang, saya percaya bahwa industri film lokal adalah bagian dari hulu dari ekosistem ini. Kami berkomitmen untuk memastikan pertumbuhan ini tidak hanya berhenti di angka, tapi juga memberi nilai tambah nyata bagi kreativitas sineas dan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi bangsa. #SamuelWattimena #IndustriFilmIndonesia #EkonomiKreatif #BanggaFilmIndonesia #KomisiVII
@samuel_wattimena_id










