
1.0M
KEIpotnews - Utang global mencapai rekor tertinggi USD348 triliun pada akhir 2025, setelah bertambah hampir USD29 triliun sepanjang tahun--menjadi kenaikan tahunan tercepat sejak lonjakan pada masa pandemi. Hal ini diungkapkan Institute of International Finance (IIF) dalam laporan Global Debt Monitor terbarunya.
Lonjakan utang tersebut terutama didorong oleh pemerintah, yang menyumbang lebih dari USD10 triliun dari total kenaikan. Amerika Serikat, China, dan kawasan euro menjadi kontributor utama, mencakup sekitar tiga perempat dari total peningkatan utang global, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (25/2) atau Kamis (26/2) pagi WIB.
Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran siklus utang global, yang kini lebih banyak dipicu defisit fiskal yang terus berlanjut di negara-negara besar, bukan lagi oleh sektor rumah tangga atau korporasi.
Meski demikian, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) global sedikit menurun menjadi sekitar 308% pada 2025, terutama karena kinerja negara maju. Sebaliknya, rasio utang di negara berkembang terus meningkat dan mencapai rekor baru di atas 235% PDB.
IIF memperingatkan bahwa kombinasi ekspansi fiskal, kebijakan moneter yang longgar, serta pelonggaran regulasi dapat mendorong akumulasi utang lebih lanjut, sekaligus meningkatkan risiko leverage berlebih dan potensi overheating di sejumlah pasar.
#gdp #utangdunia #keuangan #ekonomi #iif
@keluardariperbudakan










